Qualitative analysis reveals denotative and connotative meanings in portrayals of transcendental communication, highlighting emotional depth and stigma critiques.
Communication does not only occur between humans, but also includes the relationship between humans and God, which is referred to as transcendental communication. One film that addresses this topic is “Harlot's Prayer” which tells the spiritual story of a woman named Kiran who faces abuse, hypocrisy, and social pressure. This study aims to reveal the ways in which transcendental communication is portrayed in the film, particularly through denotative, connotative, and mythical meanings based on Roland Barthes' semiotic approach. Additionally, this study employs a qualitative research method, with data collected through direct observation of the film, documentation of scenes, and literature review related to semiotic theory and transcendental communication. The researcher analyzes visual, audio, and narrative signs that form the meaning of communication between the main character and God. This study shows that the scenes in the film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa contain denotative meanings in the form of direct communication between Kiran and God, connotative meanings that reflect the search for meaning in life amid suffering, meanwhile, the myth in this film criticizes the stigma that sinners are unworthy of communicating with God and symbols of one's spiritual status. The representation of transcendental communication in this film is evident through honest emotional expressions and an inner connection between humans and God. This study is expected to contribute to the development of semiotics research in communication.Abstrak. Komunikasi tak hanya terjadi antar manusia, melainkan juga mencakup hubungan antara manusia dengan Tuhan yang disebut sebagai komunikasi transendental. Salah satu film yang mengangkat topik ini yaitu Film “Tuhan, Izinkan Aku Berdosa”, film ini mengangkat kisah dari sisi spiritual seorang perempuan bernama Kiran yang menghadapi pelecehan, kemunafikan, dan tekanan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan representasi komunikasi transendental yang tertuang dalam film tersebut, khususnya melalui makna denotatif, konotatif, dan mitos berdasarkan pendekatan semiotika Roland Barthes. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap film, dokumentasi adegan, serta studi literatur terkait teori semiotika dan komunikasi transendental. Peneliti menganalisis tanda-tanda visual, audio, serta narasi yang membentuk makna komunikasi antara tokoh utama dengan Tuhan. Penelitian ini menunjukkan bahwa adegan-adegan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa mengandung makna denotatif berupa komunikasi langsung antara Kiran dan Tuhan, makna konotatif yang merefleksikan pencarian makna hidup di tengah penderitaan, Sementara itu, mitos dalam film ini mengkritik stigma orang yang berdosa tidak layak berkomunikasi dengan Tuhan dan simbol status spiritual seseorang. Representasi komunikasi transendental dalam film ini tampak melalui ekspresi emosi yang jujur dan keterhubungan batin antara manusia dan Tuhan. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada pengembangan kajian semiotika dalam ilmu komunikasi.
No takes yet. Share an insight, caveat, or question.
Hidayat et al. (2025) studied this question.
Synapse has enriched 5 closely related papers on similar clinical questions. Consider them for comparative context: